JAKARTA - Operasi sindikat pembobolan anjungan tunai mandiri (ATM) di kota-kota besar di Indonesia satu demi satu digulung polisi. Jumlah total tersangkanya melebihi satu peleton (30 orang) penjahat. Mereka ditangkap secara marathon sejak 22 Januari hingga Selasa malam (2/2). “Data yang masuk siang ini (kemarin siang, red) sudah 37 orang,” kata Kadivhumas Mabes Polri Irjen Edward Aritonang kemarin.
Mantan tenaga ahli Lemhanas itu menjelaskan, khusus untuk pembobol ATM yang menimpa nasabah di Bali, polisi telah meringkus tujuh orang dalang sindikat. Bersama ketujuh tersangka itu juga disita barang bukti antara lain kartu-kartu ATM yang siap digunakan.
“Kartunya putih dan tidak mempunyai identitas salah satu bank, tapi sudah diisi data-data,” kata mantan juru bicara investigasi kasus Bom Bali 1 itu. Selain itu juga disita alat-alat elektronik di antaranya, beberapa laptop, kamera, dan uang tunai.
Polisi juga mengantongi data rekening nasabah yang dibobol para pelaku yang telah ditangkap. Data itu penting bagi pihak bank untuk melakukan verifikasi pada nasabah terutama mengurusi pencairan uang ganti rugi.
“Sedang dibongkar Polri data siapa saja dan kapan itu dia peroleh dan bagaimana cara dia memperoleh,” kata Edward.
Menurut Edward, pada barang bukti berupa laptop polisi menemukan lagi sejumlah data yang direkap para tersangka. “Mungkin, merupakan data-data yang akan dijadikan sasaran berikutnya atau dalam pengelolaan mereka,” katanya.
Edward meminta nasabah berhati-hati jika bertransaksi di akhir pekan. “Pelaku punya istilah hari panen. Itu adalah hari-hari jelang liburan, hari besar dan akhir pekan,” kata Edward.
Dari pengakuan salah satu pimpinan sindikat, beberapa operator lapangan bergerilya di hotel-hotel, cafe dan tempat berlibur untuk mencari data. “Hanya dalam hitungan jam setelah data itu tercuri mereka beraksi. Mereka beroperasi menggunakan teknologi,” katanya.
Karena itu tim khusus Cybercrime Bareskrim Mabes Polri juga dilibatkan untuk membantu pengungkapan kasus itu secara tuntas. Edward juga mengkonfirmasi bahwa seorang oknum pejabat bank swasta ditahan.
“Kami tidak menyebut itu salah perbankan. Itu perilaku oknum di BCA. Masih diselidiki apakah ada kaitan dengan Bali dan dimana saja beroperasi,” katanya.(rdl)