Anton Apriantono punya hobi cukup unik. Di sela kesibukannya sebagai menteri pertanian, mantan dosen IPB itu keranjingan bercocok tanam. Bukan di ladang atau sawah, tapi di teras lantai dua dekat atap rumah.
RIDLWAN HABIB, Jakarta
BERBAJU batik hijau lengan panjang, wajah Anton tampak segar. Padahal, 10 menit lagi sudah pukul sembilan malam. ”Assalamualaikum, terima kasih ya mau datang jam segini. Agenda saya memang sedang padat,” ujarnya kepada Jawa Pos yang bertamu di rumah dinasnya Selasa (1/4) lalu.
Meski sudah larut, rumah yang terletak di kompleks kediaman pejabat negara di Jalan Widya Chandra V/28 itu masih ”hidup”. Selain tiga satpam yang berjaga di pos mungil samping pagar, seorang pegawai Departemen Pertanian sedang berbincang dengan istri Anton, Rossi Rozzana, di ruang tengah.
”Tadi baru saja selesai rapat kabinet di istana sampai sore,” katanya seraya mempersilakan Jawa Pos duduk. Rapat itu di antaranya membahas produksi beras nasional. Pemerintah, kata Anton, tidak akan mengekspor beras hingga tahun depan.
Menteri asal Partai Keadilan Sejahtera (PKS) itu juga baru saja pulang dari kunjungan kerja di Palu dan beberapa kota di Sulawesi selama dua hari. Tidak kelelahan? ”Saya berprinsip kerja itu amanah. Bukan beban. Kalau kerja dianggap beban, hasilnya justru tertekan. Jadi, relaks saja, tapi tetap serius,” ujarnya.
Cara lain menikmati hidup yang dipraktikkan Anton adalah menekuni hobinya. Sejak masih menjadi dosen, doktor Reading University, Inggris, itu memang gemar tanam-menanam. ”Sebenarnya saya ingin ini juga jadi hobi semua kalangan. Karena, rajin menanam itu mengurangi beban hidup,” katanya.
Dia mengaku prihatin dengan kondisi warga yang daya jangkau ekonominya rendah. Dengan alasan kantong cekak, gizi keluarga tak terpenuhi. Bahkan, istilahnya, bisa makan sehari saja sudah hebat. ”Padahal, kalau kita kreatif, hal itu bisa kita siasati dengan menanam. Mereka mengeluh tanpa berbuat,” kata Anton.
Bapak satu putri, Sri Rahayu, itu mencontohkan, ”Masak beli cabai saja harus ke warung. Beli lalap harus belanja di pasar. Padahal, menanam cabai, tomat, terong, dan aneka sayuran lain bisa dilakukan dengan gampang dan di semua tempat.”
Anton lalu beranjak sebentar masuk ke ruang tengah. Dia mengambil beberapa contoh biji aneka tanaman dalam kemasan. ”Seperti ini kan tidak mahal. Tinggal disemai, lalu dipindahkan, dipupuk dengan kompos saja, rajin disiram. Beres,” katanya sambil memegang sampel bibit yang diproduksi sebuah perusahaan di Surabaya itu.
Kalau tidak punya lahan, kata dia, di pekarangan. Kalau tak punya pekarangan, bisa pakai polibag, botol bekas, atau ember plastik. ”Yang penting, tinggal ada kemauan,” katanya.
Dia mencontohkan hasil kunjungannya ke Papua. Masyarakat di sana, kata dia, menyiasati kekurangan pangan dengan menanam ubi secara bergantian dan berkelompok. ”Jadi, kalau di satu tempat selesai dipanen, geser ke lahan lain,” jelasnya.
Di perkotaan, ubi jalar juga bisa ditanam menggunakan polybag. Itu sudah dipraktikan di rumah percobaan milik Deptan di Bogor dan Bekasi. Di Demak lain lagi. ”Ada satu desa yang semua warganya menanam jambu air. Hasilnya, selain dinikmati sendiri, bisa dijual untuk menambah penghasilan,” katanya.
Saat belum menjadi menteri dan masih tinggal di Bogor, Anton pernah menanam markisa. Tumbuhan yang masuk dalam keluarga passifloracae itu termasuk jenis tanaman merambat. Batangnya dibantu sulur-sulur berbentuk spiral yang cepat sekali menjalar.
”Awalnya saya tanam di samping pohon dekat pagar rumah. Lama-lama menjalar sampai seperti beringin kampung. Buahnya bebas dinikmati siapa saja yang lewat. Pokoknya kalau sudah matang diikhlaskan untuk warga,” katanya lalu tertawa.
Pohon itu kini sudah tidak ada. ”Saya tebang karena daun-daunnya mengotori pelataran rumah tetangga. Lagi pula, saya terus pindah ke sini,” katanya.
Sejak terpilih jadi anggota Kabinet Indonesia Bersatu, rumah pribadinya di Bogor hanya disambangi pada saat-saat khusus. Misalnya, libur panjang atau libur Lebaran. Putrinya juga bersekolah di SMA 82 Jakarta.
Anton lalu mengajak Jawa Pos naik ke teras rumahnya di lantai dua. Dari ruang tamu melewati ruang tengah, naik tangga kayu sampai ruang keluarga. Di ruang itu ada hiasan kaligrafi ayat kursi dan akuarium berisi dua kura-kura mungil. Terasnya terletak persis di sampingnya.
”Ya, seperti ini hasilnya,” kata menteri kelahiran Serang, 5 Okotober 1959 itu, menunjukkan hasil hobinya. Aneka tanaman tertata rapi di rak-rak kayu. Ruangan terbuka berlantai semen yang luasnya hanya 5 x 8 meter itu ibarat kebun pembibitan (nursery). Ada sawi hibrida, seledri, daun bawang (loncang), kemangi, lombok, dan selada. Juga ada tanaman terong yang tertata rapi dalam pot-pot ukuran sedang.
”Ini bisa langsung dimakan lho,” ujar Anton sambil memetik selada segar yang tampaknya baru saja disiram itu. Istrinya, Rossi, menyusul ke lantai atas. ”Wah, Bapak jadi model tanaman ya sekarang,” candanya saat Anton sedang berpose di depan fotografer Jawa Pos.
”Ini kebetulan kangkungnya sedang habis. Biasanya kalau ada tamu mendadak, kita petikkan saja langsung di sini, bikin oseng-oseng atau tumis,” kata ibu menteri yang malam itu berpakaian kebaya muslim warna merah muda.
Dengan bersemangat Rossi menunjukkan satu per satu tanaman kesukaannya. ”Ini terong ungu, langsung bisa dipetik,” katanya sambil memegang buah terong dalam pot itu. Lalu, aneka tanaman jeruk dalam pot. Ada jeruk nipis, jeruk limau, dan jeruk kinkit. ”Di bawah nanti saya tunjukkan jeruk ponde,” katanya.
Ibu yang juga menjadi pengurus Solidaritas Istri Kabinet Indonesia Bersatu (SIKIB) itu tampak benar-benar menyayangi tanamannya. ”Saya dibantu dua orang merawatnya,” ujarnya. Yang juga unik, tumbuhan itu ditanam menggunakan pipa-pipa talang air berbentuk kotak memanjang.
”Kalau tidak ada talang, bisa pakai bambu dibelah,” sambung Anton. ”Jadi, tidak ada alasan nggak punya lahan,” tambahnya.
Rossi bercerita, sang suami tercinta sedang demen-demennya makan lalap sayuran segar. ”Bapak lagi pingin kurusan (langsing),” katanya lalu tersenyum.
Sebelum turun untuk melihat tanaman di halaman, Rossi menunjukkan koleksi tanamannya dari Manado. ”Ini bahan bikin bubur Manado. Saya bawa sendiri dari sana dan tancap-tancap sendiri,” katanya.
Di halaman, dalam keremangan lampu taman, Rossi dengan bersemangat menunjukkan koleksinya. Ada sawo kecik, jambu brazil, jambu monyet, aneka mangga, kedondong, jeruk ponde, dan aneka bunga anggrek. ”Kalau mau bikin rujak, tinggal petik di halaman. Lomboknya sudah ada di atas,” kata ahli ilmu gizi itu.
Anton mengaku sedang berusaha menumbuhkan kesadaran menanam secara nasional. ”Sekarang kalau kado ke sesama menteri saya tidak memberi barang, tapi pohon mangga yang sudah ada buahnya dalam drum kecil,” katanya sambil tangannya membentuk ekspresi bulatan di udara. Respons para koleganya ternyata sangat positif.
”Bahkan akhir tahun lalu, oleh Bu Mari (Mari E. Pangestu, Menteri Perdagangan) pohon mangga saya dijadikan pohon hiasan Natal,” katanya lantas tertawa.
Selain gerakan menanam, Anton juga mencetuskan program sadar gizi. ”Misalnya punya drum bekas, pelihara saja belut. Itu sudah cukup untuk kebutuhan protein keluarga,” katanya.
Bagi keluarga the have atau kalangan ekonomi atas, dia menganjurkan bertanam dan beternak sebagai penyeimbang ritme hidup. ”Menyenangkan jiwa dan mengurangi stres,” kata Anton. (el)