Sambung Samping Pilar - Radar Sulawesi Tengah Online

Terbesar Terdepan dan yang Utama di Sulawesi Tengah
   
  Utama
  Opini
  Palu
  Sulawesi Tengah
  Hiburan
  Olahraga
  Kriminal
  Ekonomi
  Politika
  Parimo-Touna-Banggai
  Tajuk
  Index Berita

  Suara Pelajar


 

 
 Berita Opini
Kamis, 28 Januari 2010
Sambung Samping Pilar
Dasar Peingkatan Produktivitas Kakao di Sulawesi Tengah

*Oleh: Syafruddin

Kakao merupakan salah satu komoditi unggulan di sektor perkebunan. Hingga tahun 2009 komoditi ini masih menduduki urutan ketiga penghasil devisa setelah sawit dan karet, akan tetapi berada pada urutan pertama dalam penyerapan tenaga kerja. Saat ini luas tanaman kakao mencapai 1,4 juta ha dengan produksi 799,5 ribu ton dan melibatkan sekitar 1,5 juta kepala keluarga. Secara internasional Indonesia sebagai penghasil kakao terbesar kedua setelah Pantai Gading. Hal ini menggambarkan bahwa komoditi kakao tidak hanya sebagai penghasil devisa dan penciptaan lapangan kerja, akan tetapi merupakan komoditi penyangga perekonomian negara.

Mengingat banyaknya kepala keluarga yang terlibat dalam usaha tani kakao dan didominasi oleh jenis perkebunan rakyat maka tanaman kakao juga dapat dikategorikan sebagai komoditi sosial yang bernilai ekonomi tinggi dan tingkat kesejahteran petani kakao yang rata-rata lebih baik di banding komoditi lainnya. Posisi ini merupakan peluang untuk menjadi penyangga kakao baik regional maupun internasional. Meskipun hingga saat ini Indonesia belum masuk dalam negara yang ikut menentukan harga dunia.

Disamping penghasil devisa dan penyerap tenaga kerja, komoditi kakao merupakan sumber pendapatan petani, penciptaan lapangan kerja baru dan pendorong agribisnis clan agroindustri, serta pengembangan wilayah. Akan tetapi beberapa tahun terakhir pertanaman kakao menghadapi persoalan mendasar yakni terjadinya penurunan produktivitas secara drastis. Hingga saat ini produktivitas tanaman kakao hanya 0, 5 t/ha, bahkan di beberapa sentra pengembangan kakao di Sulawesi Tengah sudah tidak berproduksi. Hal ini disebabkan oleh: 1. Banyak pertanaman kakao telah berumur tua, 2. Adanya serangan hama clan penyakit clan 3. Terbatasnya modal petani, sehingga mengalami kesulitan dalam pengadaan agro input. 4. Pengetahuan dan akses petani terhadap teknologi masih terbatas. Permasalahan tersebut di atas juga terjadi di Sulawesi Tengah.

Selain empat permasalahan tersebut diatas, masalah yang juga ikut menyebabkan rendahnya produksi dan produktivitas kakao adalah terjadinya degradasi lahan pada areal pertanaman kakao. Hal ini dicirikan oleh rendahnya kadar bahan organik tanah yakni kurang dari 2% di beberapa sentra pengembangan kakao termasuk Sulawesi Tengah.

Untuk meningkatkan produksi dan produktivitas kakao, pemerintah telah menetapkan program jangka menengah yang dikenal dengan Gerakan peningkatan produksi dan mutu kakao nasional (Gernas) yang secara bertahap dilaksanakan selama 3 tahun dengan menetapkan 9 provinsi sebagai sentra pengembangan yang salah salah satunya adalah wilayah Provinsi Sulawesi Tengah. Masalah mendasar yang menyebabkan rendahnya produktivitas kakao di Sulawesi Tengah adalah umur tanaman yang rata-rata sudah tua, sehingga tanaman rentang terhadap berbagai serangan hama dan penyakit dan tidak respons terhadap pemupukan. Hama utama yang ada di Sulawesi Tengah adalah hama penggerek buah kakao (PBK). Untuk itu, perlu dilakukan peremajaan secara menyeluruh. Untuk mendukung program peremajaan ini diperlukan teknologi yang dapat dengan mudan dan murah dilakukan oleh pelaku (petani). Sambung samping inilah yang dapat dijadikan pilar utama.

Kakao di Provinsi Sulawesi Tengah merupakan sumber penghasil devisa dan PDB di sektor pertanian terbesar setelah tanaman pangan. Sulawesi Tengah juga merupakan penghasil kakao terbesar kedua di Indonesia setelah Provinsi Sulawesi Selatan. Hal ini merupakan modal dasar dalam peningkatan pendapatan petani, devisa dan PDB serta penciptaan lapangan kerja di wilayah Provinsi Sulawesi Tengah melalui perbaikan inovasi pada komoditi kakao. Untuk itu, agar dalam pelaksanaan Geranakan nasional (Gernas) ini dapat lebih efektif dan berhasilguna diperlukan pola dan sasaran pembangunan yang tepat, terarah disertai dengan pilihan teknologi yang tepat.

Teknologi Sambung Samping

Salah satu pilihan teknologi yang dapat menjadi pilar dasar dalam program peningkatan produksi kakao di Sulawesi Tengah adalah sambung samping. Teknologi sambung samping telah lama di adaptasikan di Sulawesi Tengah oleh Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Sulawesi Tengah dengan melibatkan petani secara aktif. Petani pertama yang di bina oleh BPTP Sulawesi Tengah adalah Pak Made yang berada di Desa Buranga, Kecamatan Kasimbar, Kabupaten Parigi Motung yang dilaksanakan pada Tahun 1996 disusul beberapa petani di wilayah Palolo dan Sirenja. Beberapa tahun kemudian telah muncul petani-petani pioner yang secara mandiri telah melakukan sambung samping secara swadaya dan memberikan hasil yang sangat baik.

Hal ini, dapat terlihat di beberapa lokasi pelaksanaan teknologi sambung samping secara swakelola telah memperlihatkan hasil yang sangat baik, seperti di Desa Simanisi, Kecamatan Sirenja, Kabupaten Donggala, Desa Sausu, Kecamatan Sausu, Kabupaten Parigi Moutong, dan Desa Bahagia, Kecamatan Palolo Kabupaten Sigi serta bwberapa daerah lainnya yang secara mandiri petani telah berhasil melaksanakan peremajaan kakao dengan teknik sambung samping. Di samping itu, di Sulawesi Tengah telah tersedia sumber entres yang berkualitas dan telah diseleksi, dimurnikan oleh Pusat Penelitian Kopi dan Kakao. Selain, BPTP Sulawesi Tengah, masih banyak sumber teknologi sambung samping yang dapat dijadikan sumber bahan rujukan untuk mewujudkan program peningkatan produksi dan produktivitas tanaman kakao di Sulawesi Tengah yang didasari oleh teknologi sambung samping seperti Universitas Tadulako, Universitas Alkhaerah dan Universitas Muhammadiyah Palu serta beberapa LSM yang secara periodik telah melalukan penelitian pada komoditi kakao. Hal ini menandakan bahwa teknologi sambung samping dapat dilakukan oleh petani, sehingga secara nyata dapat sukses jika dijadikan pilar utama dalam peningkatan produksi dan produktivitas tanaman kakao di Sulawesi Tengah.

Hasil tanaman yang sambung samping memberikan produksi berbeda antar klon, akan tetapi pada umumnya telah dapat memberikan hasil pada usia sambungan kurang dari 2 tahun. Agar dalam pelaksanaan teknologi sambung samping ini dapat berhasil dengan baik, maka ada beberapa hal yang harus diperhatikan antara lain: Ketersedian Klon unggul, umur dan bagian entres untuk bahan sambungan, cara dan lama penyimpanan entres, warna plastik penutup, letak penyambungan, dukungan tenaga terampil serta waktu pelaksanaan penyambungan.

Bersamaan dengan pelaksanaan penerapan teknologi sambung samping di tingkat petani yang dilakukan oleh BPTP Sulawesi Tengah, pelaksanaan penyiapan kebun entres, juga telah dilakukan pada tahun 2006 di Kebun Percobaan Sidondo. Hingga saat ini telah terkoleksi Klon unggul sekitar 30. Namun yang telah dilakukan seleksi dan pemurnian oleh Pusat Penelitian Kapi clan Kakao Jember baru 9 klon dia antaranya: ICS 60, ICS 13, UIT 1, TSH858, GC 7 clan ICS 60, serta dua klon unggul lokal/spesipik Palu yaitu: klon Tinading dan Surumana.

Disamping itu, terdapat beberapa klon yang saat ini masih dalam pengujian untuk penetapan sebagai klon unggul yang berproduksi tinggi dan tahan terhadap serangan hama penggerek buah kakao (PBK) yang selama ini menjadi momok di tingkat petani. Selain itu, ada dua daerah yang telah ditetapkan oleh pemerintah daerah sebagai kebun entres kakao yaitu Kecamatan Palolo, Kabupaten Sigi dan Kecamatan Sausu, Kabupaten Parigi Moutong. Pemerintah Pusat melalui Pusat Penelitiam Kopi dam Kakao Jember secara terus menerus mengupayakan dan menciptakan klon-klon unggul baik produktivitasnya maupun ketahanannya terhadap hama dan penyakit. Secara bertahap Pusat Penelitian Kopi dan Kakao telah merilis klon-klon unggul kakao generasi ke 3 yang dapat memberikan produksi lebih dari 2 t/ha.

Disamping ketersediaan klon unggul di Sulawesi Tengah telah banyak petani yang mempunyai keterampilan dalam pelaksanaan teknologi Sambung samping dan beberapa teknisi dari BPTP Sulawesi Tengah yang siap untuk mendampingi pelaksanaan teknologi ini.**

*)Syafruddin, Peneliti pada Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Sulawesi Tengah


  [ Kembali ]  [ Atas ]

 
 Pencarian Berita
 
  AllAny
 Kategori
 

 
Berita yang Lain
Mengadu ke Kakak Dianiaya Polisi Berompi
Teror Pencitraan Jelang Lebaran
Reformasi Lahir Batin dalam Idul Fitri
Arogansi Pihak Kepolisian pada Tragedi Buol;
Buol Berduka Cita
SBY Jangan Tersandra
Tawaduk Harus, Takabur Boleh
RI Perlu Belajar dari Korsel


Copy Right © 2003 Radarsulteng.Com
This website is best viewed with 800 x 600 Resolutions and Internet Explorer 6.0 and required Macromedia Flash Player Plugin
All Right Reserved