Pengrajin Kayu Hitam Kesulitan Bahan Baku - Radar Sulawesi Tengah Online

Terbesar Terdepan dan yang Utama di Sulawesi Tengah
   
  Utama
  Opini
  Palu
  Sulawesi Tengah
  Hiburan
  Olahraga
  Kriminal
  Ekonomi
  Politika
  Parimo-Touna-Banggai
  Tajuk
  Index Berita

  Suara Pelajar


 

 
 Berita Ekonomi
Kamis, 28 Januari 2010
Pengrajin Kayu Hitam Kesulitan Bahan Baku

PALU – Pelaku industri kerajinan kayu hitam atau yang dikenal dengan istilah kayu ebony sejak enam bulan terakhir mulai merasa kesulitan untuk mendapatkan bahan baku.

Produk kerajinan yang mulai sulit diproduksi meliputi jenis mebel dan souvenir berukuran besar. Padahal pasar dari produk kerajinan dari bahan baku kayu ebony berukuran besar ini ini dicari oleh konsumen.

Menurut Made Muliawan, pemilik usaha Krisna Karya, sejak enam bulan terakhir stok mebel yang selama ini memenuhi showroomnya mulai berkurang jumlahnya.

“Kami sudah tidak menambah stok kursi dan meja dari kayu hitam. Ini karena para pengrajin mebel yang selama ini menjadi mitra usaha kami mulai kesulitan untuk mendapatkan bahan baku,” ujarnya, kemarin.

Wayan mengatakan, mebel kayu hitam sebenarnya memiliki pasar sendiri. Dengan harga per set berkisar Rp 6 jutaan, mebel kayu hitam tidak saja laris di pasar dalam Kota Palu tetapi menarik minat pasar luar kota. Yakni seperti di Manado, Makassar dan kota-kota lainnya.

“Justru kalau lagi banyak tamu yang berkunjung ke Kota Palu, adalah momen yang paling baik untuk produk mebel dari bahan baku kayu hitam. Pesanan pasti membanjir,” ungkapnya.

Saat ini di showroomnya, Wayan hanya memprioritaskan untuk menampung kerajinan souvenir dari sekitar 20 pengrajin kecil yang berdomisili di wilayah Kecamatan Palu Utara. Kerajinan souvenir dalam ukuran sedang dan kecil menurutnya masih bisa dipasok oleh para pengrajin.

“Kalau yang besar-besar sudah susah. Kami bahkan tidak menerima pesanan untuk hasil produksi dari kayu hitan yang menggunakan bahan baku kayu dengan ukuran besar,” terangnya.

Dari seluruh barang dagangan yang ada di showroomnya, jenis gantungan kunci, asbak rokok dan vas bunga adalah jenis souvenir yang paling laris. Walau mengaku kekurangan stok bahan baku, Wayan menegaskan kalau souvenir kayu hitam yang dipasarkannya tidak mengalami kenaikan harga yang signifikan.

Jenis gantungan kunci misalnya, dibanderol dengan harga Rp2.500 per buah, sedang untuk asbak rokok dipasarkan seharga Rp10 ribu untuk ukuran yang kecil dan souvenir jam dinding dihargai sebesar Rp70 ribu – Rp90 ribu tergantung ukurannya.

“Belum lama ini kami menerima order papan nama meja sebanyak 50 buah dari pemesan di Manado,” sebutnya.

Usaha dagang souvenir yang dilakoni Wayan telah eksis selama lima tahun. Omzet yang didapatkannya bisa mencapai Rp2 juta per hari.

Dia juga mengatakan, usaha dagang souvenir Krisna Karya awalnya juga menyediakan kerajinan dari rotan dan gerabah. Hanya saja dari semua kerajinan yang dipasarkannya Jenis kayu hitam yang paling laris.

“Pendapatan memang paling dominan dari produk kerajinan dari bahan baku kayu hitam. Ini yang membuat kami memilih untuk meneruskan usaha dagang souvenir kayu hitam saja,” tuturnya. “Kalau misalnya souvenir dari bahan baku kayu hitanm tidak ada lagi, terpaksa buka usaha lain,” ungkapnya. (ima)


  [ Kembali ]  [ Atas ]

 
 Pencarian Berita
 
  AllAny
 Kategori
 

 
Berita yang Lain
Yamaha Klaim tetap Market Leader
Harga masih Tinggi, Emas Perhiasan Sepi Pembeli
Hakim Pertanyakan Jabatan Rangkap Andono
Agustus, Kota Palu Inflasi 2,75 Persen
Jual Sembako dengan Harga Distributor
Akhir Agustus Okupansi Hotel Naik
Harga Tiket Pesawat Merangkak Naik
Perangkat Audio Kendaraan Disarankan Berkualitas dan Bergaransi


Copy Right © 2003 Radarsulteng.Com
This website is best viewed with 800 x 600 Resolutions and Internet Explorer 6.0 and required Macromedia Flash Player Plugin
All Right Reserved